Meriç Dağlı on Unsplash


Malam itu, ketika segala perhelatan acara yang diadakan oleh pihak Panita Pemilihan Luar Negeri Ankara (PPLN Ankara) selesai dan para peserta acara akhirnya bubar. Seremonial ini hanyalah serangkaian acara mendengarkan penyampaian sosialisasi untuk mereka yang berada di luar negeri sekaligus acara temu ramah mahasiswa baru Indonesia di Sakarya.

Namun yang menjadi sorotanku kali ini adalah sepasang kekasih yang tak lama lagi harus menjalani hubungan jarak jauh. Sosok yang menurutku pasangan ideal yang kutemui di Sakarya, mereka adalah bibit-bibit awal dari berdirinya Perhimpunan Pelajar Indonesia Sakarya (PPI Sakarya). Sosok mereka adalah Pak Rudi dan Ibu Ilona. Maafkan Aku menyebutkan nama kalian berdua,tapi kuharap kalian tidak membaca tulisanku ini yang masih jauh dari kata sempurna. Jadi, harus dari mana Aku memulai cerita ini, awal yang membuatku tau tentang negara ini tepatnya.

Aku adalah pengemar berat Mbak Hanum Rais dan Mas Rangga Alhmahendra, sudah banyak buku-buku mereka yang kukoleksikan, bahkan yang terakhir yang masih kusimpan di lemari bukuku di Aceh, Bulan Terbelah di Langit Amerika plus dengan tanda tangan mereka berdua. Buku itu kubeli sebelum Aku berangkat ke Jakarta tepatnya ketika Aku masih SMA di Aceh. Tak banyak yang tau tapi Aku dengan bangganya memamerkan buku tersebut ke teman-temanku. Terlalu berlebihan itulah diriku saat itu. Aku pengemar berat mereka berdua, mereka yang lulusan salah satu kampus di Jogjakarta mengingatku kepada sepasang  suami istri Pak Rudi dan Bu Ilona yang juga kuliah di Jogja.

Kurang lebih jejak rekam perjalanan mereka berdua tak jauh berbeda dengan yang dialami Rangga dan Hanum. Mungkin bagi kalian pernah menonton film mereka salah satu scence nya ada di Istanbul, Turki. Nah, di kota inipula mungkin kisah ini akan dimulai sebagai kisah yang membuat batin terketuk, telinga yang dulunya tuli kembali mendengar, mata yang dulu tertutup kembali membuka melihat betapa indahnya dunia ini.

Sakarya mungkin lima tahun lalu tak seperti sekarang yang serba penat. Tak seindah jalan cerita dulu yang kekeluargaannya lebih dari apa yang bisa kita rasakan sekarang. Bagiku PPI bukan ajang  adu proker sama halnya dengan BEM/DEMA atau organisasi lainnya. PPI adalah keluarga, maka nilai-niai keluarga yang berhasil mereka tanamkan terlebih dahulu sebelumnya PPI akhirnya bisa terbentuk. PPI adalah bukan organisasi politik praktis.


Jika jalan cerita Mbak Hanum yang menjadi jurnalis dan Mas Rangga  yang sedang mengambil doktoral di Vienna, Austria. Pak Rudi dan Bu Ilona masing masing sedang mengambil doktoral di Sakarya University. Kurang lebih hanya sampai disini tulisan ini bisa kutulis, karena dua jam lagi ada ujian bahasa inggris di kampus Anadolu. Aku harus segera di sana. Hari terakhir yang bisa kita rasakan adalah waktu silaturahmi di kediaman Pak Rudi di Korucuk, tapi mungkin kita tidak bisa lagi kesana. Terimakasih sudah membaca.


Cut Meurah Habibur Rahman
10/10/2018 ; 9.45

No comments:

Post a Comment