"Perjalanan selalu menyisakan kenangan, pertemuan bisa menyisakan perpisahan. Tapi bercerita selalu bisa merekatkan kita yang berjarak."
Penggalan kalimat di atas dikutip naskah novel pertamaku yang akan terbit. Perjalanan pasti selalu meninggalkan kenangan, entah itu kenangan baik maupun buruk. Menurutku sesuatu dikatakan kenangan karena ia adalah suatu hal yang tidak mudah untuk dilupakan. Berkat perjalanan itu pula orang-orang pada umumnya belajar banyak hal-hal baru dalam hidupnya. Dalam setiap proses perjalanan yang pernah kulalui, belajar memahami adalah hal yang paling sering kutemui. Memahami budaya, bahasa dan kebiasaan yang berbeda dari orang-orang yang beragam.
![]() |
| Tampak dari luar sayap pesawat AirAsia menembus birunya langit. Foto Pribadi |
Tentu untuk melakukan sebuah perjalanan selalu dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Banyak orang-orang yang akhirnya mengakhiri mimpi mereka karena terkendala oleh biaya. Masalah yang umumnya masyarakat awam alami. Aku adalah termasuk orang yang sebenarnya bernasib sama, tapi lantas aku mengubur mimpiku? Tidak. Aku justru mencari seribu cara untuk bisa melakukan perjalanan. Kali ini, aku akan bercerita sedikit tentang pengalaman perjalananku dengan maskapai penerbangan AirAsia. Pelopor maskapai penerbangan low-cost terbaik yang pernah kunaiki.
Saat duduk di bangku SMP, Aku selalu mendengar teman-teman kelasku yang berlibur kesana kemari, pulang dan pergi naik pesawat, berlibur di objek wisata ternama. Waktu itu Aku merasa sangat iri karena tidak bisa seperti mereka, orangtuaku selalu saja punya alasan agar anak-anaknya tidak liburan di luar kota. Mungkin karena penghasilan orangtuaku tidak seberapa, itulah alasan yang mungkin saat kecil tidak kumengerti.
Keputusan bulatku untuk pergi meninggalkan kampung halaman akhirnya terealisasikan saat pengumuman kelulusan perguruan tinggi nasional. Aku berhasil diterima di salah satu kampus ibukota, tapi juga diterima di salah satu kampus di kotaku. Aku bersikeras untuk melanjutkan studi di luar kota. Orangtuaku tidak bisa melarang, keinginan yang besar itu sudah kutanam sejak lama. Aku berangkat ke Jakarta untuk pertama kalinya.
Setelah setahun mengais asa di ibukota, secara mengejutkan Aku diterima beasiswa oleh Pemerintah Turki melalui Kementerian Luar Negeri Turki. Aku sangat senang, perjalanan selanjutnya sangat menegangkan bagiku. Aku tidak pernah berpikir bisa secepat ini. Di usia yang kurasa masih belia, 18 tahun, Aku melakukan perjalanan pertamaku melewati samudera dan berhasil mendarat di Bandara Mustafa Kemal Ataturk, Istanbul bagian Eropa (Sekarang Bandara Ataturk tidak berfungsi lagi dan dialihkan ke bandara Istanbul New Airport). Semua perjalanan yang kulewati bukan hal yang mudah, ada perjuangan dari seorang yang tidak punya apa-apa hingga akhirnya bisa seperti ini.
Ketika sudah menginjakan kaki selama dua tahun di tanah Ottoman, aku berniat untuk pulang ke Indonesia karena liburan musim panas sudah tiba. Liburan musim panas kali ini Aku berniat untuk pulang ke Aceh. Rute yang kuambil Istanbul-Jakarta bukan Istanbul-Kuala Lumpur yang notabane dekat dengan Banda Aceh. Aku memilih singgah di Jakarta terlebih dahulu karena kebanyakan temanku berada disana. Aku memutuskan untuk bertemu mereka terlebih dahulu sebelum pulang ke tanah kelahiranku.
![]() |
| Berfoto di samping pesawat AirAsia di Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Foto pribadi. |
Saat semuanya terasa sulit, harga tiket pesawat tak kunjung turun. Aku memutuskan untuk pulang ke Banda Aceh dari Jakarta melalui jalan darat dengan rute Jakarta-Banten-Lampung-Palembang-Jambi-Riau-Medan kemudian Banda Aceh. Selama lima hari dalam perjalanan darat dalam kondisi sedang berpuasa membuatku hampir tidak sanggup rasanya. Untungnya di dalam perjalanan aku bertemu dengan banyak mahasiswa yang senasib denganku. Kami jadi bisa saling bertukar kisah, mulai dari dunia perkuliahan hingga mengkritisi kebijakan daerahku yang belum terselesaikan.
Selama kurang lebih dua bulan aku berada di Banda Aceh, menghabiskan banyak waktu untuk menulis. Padahal baru dua tahun tidak berada di tempat kelahiranku, banyak hal yang sudah berubah. Saat memutuskan untuk kembali ke Jakarta, aku berharap bahwa tiket maskapai lokal harganya sudah miring. Namun memang tidak demikian, keadilan belum bisa dirasakan semua masyarakat Indonesia. Akhirnya telisik menelisik aku menghubungi salah satu temanku yang membeli tiket AirAsia. Dari sanalah aku mendapat kabar tentang pelopor maskapai berbiaya murah, slogannya yang selalu terngiang adalah Now Everyone Can Fly. Aku tidak perlu menunggu waktu lama, paspor memang sudah ada di tangan, langsung saja aku membeli tiket pesawat AirAsia dengan rute Banda Aceh-Kuala Lumpur kemudian dilanjutkan Kuala Lumpur-Jakarta.
![]() |
| Tampak kepala pesawat AirAsia saat Boarding di Bandara KLIA 2, Kuala Lumpur. Foto pribadi. |
Proses pembeliannya cukup mudah, aku membeli tiketnya melalui link https://air.asia/DUmvm, kemudian dilanjutkan dengan memilih rute penerbangan.dari bandara Iskandar Muda, Banda Aceh ke Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2, Kuala Lumpur. Ada banyak destinasi yang sebenarnya bisa kita pilih dengan harga yang cukup terjangkau. Setelah itu ada beberapa opsi tambahan seperti bagasi 20 kg, memilih bangku dan makanan. Aku menyarankan untuk membeli bagasi karena harga yang kita beli di website jauh lebih murah dibandingkan harga di bandara. Proses selanjutnya adalah pembayaran, Aku bisa memilih membayar di Alfamart ataupun di Indomaret untuk penerbangan rute Banda Aceh-Kuala Lumpur. Semua kemudahan ini sangat membantuku, setelah membayar. Melalui email dikirimkan bukti kalau kita sudah membayar, dengan bukti itu kita bisa langsung check in dan cetak buktinya.
Untuk penerbangan dari Kuala Lumpur-Jakarta pembayaran tidak bisa dilakukan di supermarket. Hanya penerbangan dari Indonesia saja yang bisa. Untungnya Aku punya kartu kredit, sehingga tak perlu berpusing ria, dalam hitungan jam saja tiket pesawat sudah ada di tanganku.
Untuk penerbangan dari Kuala Lumpur-Jakarta pembayaran tidak bisa dilakukan di supermarket. Hanya penerbangan dari Indonesia saja yang bisa. Untungnya Aku punya kartu kredit, sehingga tak perlu berpusing ria, dalam hitungan jam saja tiket pesawat sudah ada di tanganku.
![]() |
| Foto diambil dari dalam pesawat AirAsia. Foto Pribadi |
Selama perjalanan aku ditakjubkan dengan pelayanan pramugari AirAsia yang ramah dan murah senyum. Para pramugari menawarkan berbagai souvenir yang sangat menarik, mulai dari baju, topi, tas hingga hal lain dengan harga yang terjangkau. Perjalanan kali ini tidak seberat yang kupikirkan sebelumnya. Waktu transit di bandara KLIA 2 hanya tiga jam. Selama tiga jam itu aku mengelilingi tiap spot-spot indah di dalam bandara. Sebelum akhirnya perjalanan dilanjutkan ke Jakarta. Memang ada sedikit kendala di bagian imigrasi, antrean yang membludak akhirnya membuat penerbangan harus ditunda selama 30 menit. Selama di dalam pesawat ada hal yang unik, karena saat keberangkatan adalah bulan Agustus. Aku mendengar lagu yang terus diputar-putar, lagu 31 Ogos yang diciptakan oleh Sudirman, Awalnya Aku tidak tahu menahu soal lagu satu ini, tapi lama-lama aku jadi bisa menghapal liriknya. Kebetulan di bulan Agustus bertepatan dengan hari kemerdekaan Malaysia yang ke-62, ini informasi baru bagiku. Banyak teman-teman Malaysiaku selama di Turki. Tapi Aku tidak pernah menanyakan tentang hari kemerdekaan mereka. Aku merasakan Bahagia Bersama AirAsia karena tidak hanya memberiku pelajaran perjalanan tetapi lebih dari itu, Aku merasakan kebersamaan.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya perjalanan dilanjutkan, tidak ada kendala sedikitpun. Selama perjalanan, pemandangan di luar jendela cukup menyita mataku, Airasia berhasil menutup perjalananku selama di Indonesia dengan sangat baik. Beberapa hari setelah itu Aku mendengar kabar bahwa AirAsia akan membuka pernerbangan langsung dari Banda Aceh ke Jakarta atau sebaliknya, Aku sangat bersyukur bila hal itu benar-benar terjadi karena itu sangat memudahkanku khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya. Ceritaku terbang bersama AirAsia cukup sampai disini, di lain kesempatan Aku berjanji akan kembali terbang dengan AirAsia dengan destinasi lainnya di Asia seperti Thailand dan Jepang. Dua negara favoritku yang harus kukunjungi.
#BahagiaBersamaAirAsia






No comments:
Post a Comment